SUMBAR | Pagi itu udara Padang terasa lebih lembut dari biasanya. Di sudut sebuah kafe sederhana, bukan derap sepatu dinas atau barisan apel yang mendominasi, melainkan tawa dan jabat tangan hangat. Di tengah suasana akrab itu, Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya berdiri tanpa jarak, menyapa satu per satu wartawan seperti menyambut keluarga sendiri.
Pertemuan yang dibalut tema “Mensucikan Hati Menjemput Ramadan” menjelma lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia berubah menjadi ruang temu rasa, tempat Polri dan pers menanggalkan sekat jabatan. Kursi-kursi disusun melingkar, obrolan mengalir santai, dan aroma kopi bercampur diskusi tentang masa depan sinergi informasi di Sumatera Barat.
Di hadapan para jurnalis, Kombes Pol Susmelawati Rosya menyampaikan pesan yang lugas namun menyentuh. Media, katanya, bukan hanya rekan kerja, melainkan mitra strategis yang tak terpisahkan dari tugas kepolisian. Tanpa pers, banyak kerja kemanusiaan Polri tak akan sampai kepada masyarakat.
Nada bicaranya tidak kaku. Ia justru terdengar seperti kakak yang menenangkan adik-adiknya. Jika ada kebutuhan, musibah, bahkan momen bahagia seperti pesta atau wisuda, ia meminta wartawan tak sungkan mengabari. Baginya, hubungan itu harus dibangun dengan rasa memiliki, bukan sekadar koordinasi formal.
Komitmen keterbukaan menjadi penekanan utama. Ia memastikan setiap media mendapat kesempatan setara dalam peliputan, termasuk sistem giliran saat konferensi pers. Tak boleh ada yang merasa dianaktirikan. Semua harus berjalan transparan, adil, dan profesional.
Refleksi atas perjalanan tahun sebelumnya pun mengemuka. Sepanjang 2025, sinergi yang terjalin dinilai telah banyak membantu Polda Sumbar menyampaikan informasi cepat dan akurat kepada publik. Susmelawati menyampaikan terima kasih, sembari mengajak semua pihak menatap 2026 dengan semangat baru.
Baginya, tahun baru bukan sekadar pergantian angka kalender. Itu adalah momentum pembaruan cara kerja. Ia mendorong inovasi, kecepatan, serta profesionalisme pemberitaan agar isu-isu strategis, termasuk kebijakan yang menyangkut hajat hidup masyarakat, bisa dikawal bersama.
Di sela pertemuan, tausiyah dari penceramah Endi MN menghadirkan suasana hening. Pesan tentang menjaga lisan dan hati menyentuh banyak orang. Bagi insan pers yang setiap hari bergelut dengan kata, nasihat itu terasa relevan, mengingatkan bahwa tulisan punya daya membangun sekaligus melukai.
Ketua IKW RI Dafit Efendi menyampaikan apresiasi atas ruang silaturahmi yang dibuka Bid Humas. Ia melihat pendekatan humanis seperti ini jarang ditemui, karena biasanya hubungan polisi dan media sebatas agenda liputan. Di sini, nuansanya berbeda, lebih cair dan bersahabat.
Hal senada disampaikan Ketua KJI Peter Prayuda. Ia berharap komunikasi yang sudah baik ini terus dipertahankan, bahkan ditingkatkan, agar seluruh jurnalis, tanpa memandang latar belakang medianya, dapat terakomodasi dan difasilitasi secara adil.
Satu per satu wartawan angkat bicara. Ada yang mengenang dukungan Kabid Humas saat menghadapi kesulitan, ada pula yang menilai kepemimpinan Susmelawati membawa warna keibuan yang menenangkan. Sosoknya dianggap bukan sekadar pejabat, melainkan pengayom.
Di sisi teknis, Kasubbid Penmas Kompol Omri Yan Sahureka turut memberi arahan agar pendataan media berjalan tertib. Administrasi yang rapi, katanya, akan memudahkan koordinasi dan pelayanan informasi. Sinergi emosional tetap harus diimbangi tata kelola profesional.
Obrolan kemudian melebar pada pentingnya membangun kepercayaan publik. Ketika Polri dan pers berjalan searah, masyarakat mendapatkan informasi yang jernih. Isu-isu liar bisa ditepis, dan kabar bohong tak mudah berkembang. Kolaborasi menjadi benteng bersama.
Tak terasa waktu beranjak siang. Namun tak seorang pun terburu-buru pulang. Pertemuan itu meninggalkan kesan bahwa hubungan Polri dan jurnalis bukan sekadar kebutuhan kerja, melainkan kemitraan jangka panjang yang dilandasi rasa hormat dan empati.
Dari meja-meja kecil di Esa Cafe Padang, lahir semangat besar untuk 2026. Kombes Pol Susmelawati Rosya seolah mengirim pesan bahwa membangun keamanan daerah tak cukup dengan patroli dan penegakan hukum, tetapi juga dengan komunikasi yang hangat dan terbuka.
Ketika kebersamaan tumbuh, informasi mengalir jernih, dan kepercayaan publik menguat, maka Polri dan pers benar-benar berdiri sebagai dua pilar yang saling menopang. Dari suka duka hingga prestasi, mereka berjalan berdampingan demi masyarakat Sumatera Barat.
Andri HD

0 Komentar